Nusantara

Sepuluh Penerbangan di Bandara Syamsudin Noor Terdampak Kabut Asap Karhutla

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan mengganggu operasional penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan.

Foto jurnalistik untuk berita Sepuluh Penerbangan di Bandara Syamsudin Noor Terdampak Kabut Asap Karhutla

Visual editorial Pena Nusantara (gpt-image-2)

Sebanyak sepuluh penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, mengalami gangguan operasional akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan pada Selasa (26/8/2026). Informasi ini disampaikan oleh kantor berita Antara yang melaporkan dampak karhutla terhadap aktivitas penerbangan di bandara yang melayani wilayah Banjarmasin dan sekitarnya tersebut.

Kabut asap yang menyelimuti kawasan bandara diduga berasal dari titik-titik kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Kondisi ini menyebabkan penurunan jarak pandang yang signifikan, sehingga mengganggu kelancaran operasional penerbangan baik kedatangan maupun keberangkatan pesawat. Bandara Syamsudin Noor merupakan pintu gerbang utama transportasi udara di Kalimantan Selatan yang menghubungkan wilayah tersebut dengan berbagai kota di Indonesia.

Berdasarkan laporan Antara, gangguan terhadap sepuluh penerbangan ini menunjukkan dampak serius dari permasalahan karhutla yang kerap terjadi di wilayah Kalimantan pada musim kemarau. Namun, rincian lebih lanjut mengenai jenis gangguan yang dialami masing-masing penerbangan, apakah berupa penundaan, pembatalan, atau pengalihan rute, belum dapat dikonfirmasi dari sumber yang tersedia saat ini.

Pihak pengelola bandara dan maskapai penerbangan terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai langkah-langkah penanganan yang diambil untuk mengatasi dampak kabut asap tersebut. Informasi mengenai durasi gangguan dan estimasi normalisasi operasional penerbangan juga masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari otoritas bandara. Penumpang yang terdampak diperkirakan mengalami ketidakpastian jadwal perjalanan mereka.

Permasalahan kabut asap akibat karhutla bukan merupakan kejadian pertama yang melanda Bandara Syamsudin Noor. Dalam beberapa tahun terakhir, bandara ini kerap mengalami gangguan serupa ketika musim kemarau tiba dan aktivitas pembakaran lahan meningkat di wilayah Kalimantan. Kondisi geografis dan iklim di Kalimantan Selatan membuat wilayah ini rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan, terutama pada periode kemarau panjang.

Dampak kabut asap tidak hanya mengganggu sektor transportasi udara, tetapi juga berpotensi mempengaruhi kesehatan masyarakat di sekitar bandara dan wilayah yang terdampak. Kualitas udara yang menurun akibat partikel asap dapat menimbulkan gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. Aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat juga dapat terganggu akibat kondisi kabut asap yang berkepanjangan.

Pemerintah daerah Kalimantan Selatan dan instansi terkait diharapkan segera mengambil langkah-langkah penanganan untuk mengatasi sumber kebakaran dan meminimalkan dampak kabut asap. Upaya pemadaman titik api, patroli wilayah rawan kebakaran, serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan menjadi prioritas yang perlu dilakukan secara intensif. Koordinasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, dan BPBD sangat diperlukan dalam penanganan karhutla.

Sebagai perbandingan, di wilayah lain seperti Jambi, Polda setempat telah menerjunkan 873 personel dalam Operasi Aman Nusa II-2026 untuk membantu menangani permasalahan karhutla, sebagaimana dilaporkan Antara pada hari yang sama. Langkah serupa diharapkan dapat diterapkan di Kalimantan Selatan untuk mempercepat penanganan kebakaran dan mengurangi dampak kabut asap terhadap aktivitas masyarakat dan transportasi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai jumlah penumpang yang terdampak, kerugian ekonomi yang ditimbulkan, maupun target waktu pemulihan kondisi normal operasional bandara. Masyarakat yang berencana melakukan perjalanan melalui Bandara Syamsudin Noor disarankan untuk terus memantau informasi terkini dari maskapai penerbangan dan pihak bandara mengenai status penerbangan mereka guna menghindari ketidakpastian jadwal perjalanan.