Ekonomi

PHSS Terapkan Teknologi Baru Atasi Kendala Pasir di Lapangan Niam Kaltim

PT Pertamina Hulu Sanga Sanga menerapkan teknologi surface untuk mengatasi kendala pasir dan meningkatkan produksi minyak di Lapangan Niam.

Foto editorial untuk berita PHSS Terapkan Teknologi Baru Atasi Kendala Pasir di Lapangan Niam Kaltim

Gambar unggahan redaksi Pena Nusantara

PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS), anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), menerapkan teknologi surface untuk mengatasi kendala pasir yang menghambat produksi minyak di Lapangan Niam, Kalimantan Timur. Langkah ini ditempuh sebagai upaya meningkatkan produktivitas lapangan minyak yang menghadapi tantangan teknis terkait kandungan pasir dalam proses produksi. Informasi ini disampaikan melalui publikasi resmi Antara pada 8 Oktober 2026.

Kendala pasir merupakan permasalahan teknis yang umum dihadapi dalam operasi pengeboran dan produksi minyak, khususnya di lapangan-lapangan minyak tua. Pasir yang ikut terproduksi bersama minyak dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan produksi, penyumbatan pada pipa-pipa produksi, serta menurunkan efisiensi operasional secara keseluruhan. Kondisi ini berpotensi mengurangi tingkat produksi minyak secara signifikan jika tidak ditangani dengan teknologi yang tepat.

Penerapan teknologi surface oleh PHSS diharapkan dapat menjadi solusi efektif untuk menangani permasalahan pasir di Lapangan Niam. Meskipun detail spesifik mengenai jenis teknologi surface yang diterapkan belum dijelaskan dalam sumber yang tersedia, teknologi ini umumnya dirancang untuk memisahkan pasir dari fluida produksi di permukaan sebelum masuk ke dalam sistem pemrosesan. Hal ini dapat meminimalkan kerusakan peralatan dan meningkatkan efisiensi produksi.

Lapangan Niam di Kalimantan Timur merupakan salah satu aset produksi migas yang dikelola oleh PHSS sebagai bagian dari portofolio PT Pertamina Hulu Indonesia. Sebagai anak perusahaan PHI, PHSS memiliki tanggung jawab untuk mengoptimalkan produksi dari lapangan-lapangan yang berada di bawah pengelolaannya. Upaya peningkatan produksi melalui inovasi teknologi menjadi strategi penting dalam menjaga keberlanjutan operasi di lapangan-lapangan minyak yang sudah beroperasi dalam jangka waktu lama.

Keberhasilan penerapan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan produksi minyak dari Lapangan Niam secara bertahap. Peningkatan produksi tidak hanya berdampak pada kinerja operasional PHSS, tetapi juga berkontribusi terhadap target produksi migas nasional. Dalam konteks ketahanan energi nasional, setiap upaya peningkatan produksi dari lapangan-lapangan eksisting memiliki nilai strategis yang signifikan.

Namun demikian, informasi detail mengenai target peningkatan produksi, investasi yang dikeluarkan untuk penerapan teknologi ini, serta timeline implementasi belum tersedia dalam sumber yang dapat diakses. Pena Nusantara masih berupaya mengonfirmasi data-data teknis dan operasional lebih lanjut kepada pihak PHSS untuk melengkapi informasi mengenai proyek ini.

Penerapan teknologi untuk mengatasi kendala operasional merupakan bagian dari upaya perusahaan-perusahaan migas nasional dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Di tengah tantangan penurunan produksi migas nasional dalam beberapa tahun terakhir, inovasi teknologi menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi lapangan-lapangan yang sudah ada. Strategi ini dinilai lebih efisien dibandingkan dengan eksplorasi lapangan baru yang membutuhkan investasi dan waktu lebih besar.

PT Pertamina Hulu Indonesia sebagai induk perusahaan PHSS terus mendorong anak-anak perusahaannya untuk menerapkan teknologi terkini dalam operasi produksi migas. Komitmen ini sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan produksi migas nasional guna mengurangi ketergantungan terhadap impor energi. Berbagai upaya optimalisasi produksi dari lapangan-lapangan eksisting menjadi prioritas dalam strategi hulu migas nasional.

Ke depan, keberhasilan implementasi teknologi surface di Lapangan Niam dapat menjadi model bagi lapangan-lapangan lain yang menghadapi permasalahan serupa. Pembelajaran dari proyek ini berpotensi direplikasi untuk meningkatkan produktivitas lapangan-lapangan migas lainnya di Indonesia yang menghadapi tantangan teknis sejenis. Namun evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas teknologi ini masih perlu dilakukan seiring berjalannya waktu operasional.