dr. Angel Lim, praktisi kesehatan. Foto redaksi; latar dan komposisi oleh penanusantara.org.
Benjolan kecil di kelopak mata sering dianggap keluhan ringan yang akan hilang sendiri. Salah satu penyebabnya adalah kalazion, yakni benjolan akibat tersumbatnya kelenjar minyak di kelopak mata. Meski umumnya jinak, benjolan yang menetap atau berulang sebaiknya tidak terus-menerus dianggap sebagai kalazion biasa.
Ada perbedaan penting yang perlu dipahami: kalazion bukan kanker dan tidak lazim berubah menjadi kanker. Kekhawatiran medis justru muncul ketika suatu tumor ganas menyerupai kalazion sehingga terlambat dikenali. Salah satunya adalah karsinoma sebasea, kanker langka pada kelenjar minyak yang dapat terjadi di kelopak mata.
Mengenali kalazion
Kalazion terbentuk ketika saluran kelenjar minyak tersumbat, kemudian memicu peradangan setempat. Benjolan biasanya berkembang perlahan dan sering kali tidak nyeri, meskipun kelopak dapat terasa tidak nyaman. Tampilan benjolan saja tidak selalu cukup untuk memastikan penyebabnya.
Dokter dapat memeriksa kelopak dan permukaan mata, termasuk membalik kelopak bila diperlukan. Riwayat kapan benjolan muncul, apakah pernah menghilang lalu tumbuh kembali, serta pengobatan yang sudah digunakan membantu menentukan pemeriksaan berikutnya.
Ketika kanker menyerupai benjolan biasa
Karsinoma sebasea dapat menyerupai kalazion maupun peradangan kelopak mata yang menetap. Inilah yang membuat sebagian kasus sulit dikenali pada awalnya. Benjolan yang berulang, penebalan kelopak, atau peradangan yang tidak merespons pengobatan merupakan alasan untuk mengevaluasi kembali diagnosis.
Sebuah laporan kasus yang dipublikasikan pada 2021 menggambarkan perempuan berusia 52 tahun dengan benjolan menyerupai kalazion berulang. Pemeriksaan jaringan kemudian menunjukkan karsinoma sebasea. Kasus ini memperlihatkan pentingnya pemeriksaan lebih lanjut pada benjolan yang mencurigakan, bukan berarti setiap kalazion akan menjadi kanker.
Karsinoma sebasea merupakan keganasan yang dapat bersifat agresif. Karena itu, memastikan diagnosis lebih awal penting agar penanganan tidak tertunda. Kepastian kanker tidak dapat ditentukan melalui foto atau dugaan semata.
Tanda yang perlu diperhatikan
Jadwalkan pemeriksaan dokter mata apabila benjolan terus menetap meski telah ditangani, berulang di lokasi yang sama, atau tampak berbeda dari sebelumnya. Bulu mata yang rontok di sekitar benjolan, luka yang sulit sembuh, perdarahan, dan perubahan bentuk tepi kelopak juga memerlukan penilaian medis.
Tanda-tanda tersebut tidak otomatis berarti kanker. Namun, semuanya dapat menjadi petunjuk bahwa benjolan perlu diperiksa lebih saksama. Catat perjalanan keluhan dan sampaikan riwayat tindakan atau obat yang pernah digunakan agar dokter memperoleh gambaran yang utuh.

Perlukah biopsi?
Tidak semua kalazion memerlukan biopsi. Pada benjolan yang kronis dan tidak merespons pengobatan, dokter dapat menyarankan pengambilan jaringan untuk menyingkirkan kemungkinan tumor kelopak mata. Sampel tersebut diperiksa di laboratorium untuk memastikan jenis kelainannya.
Kalazion yang menetap dapat memerlukan tindakan oleh dokter. Pilihan penanganan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan; penggunaan obat, terutama yang mengandung steroid, perlu pengawasan karena dapat memengaruhi tekanan bola mata. Jangan terus mengganti pengobatan sendiri ketika benjolan tidak membaik.
Pesan utamanya adalah waspada secara proporsional. Sebagian besar kalazion bersifat jinak, tetapi benjolan yang berulang atau tidak kunjung sembuh layak mendapat evaluasi. Mengenali perubahan dan memeriksakannya merupakan langkah untuk menghindari keterlambatan diagnosis.

