Gambar unggahan redaksi Pena Nusantara
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai proyek hilirisasi di sektor pertanian memiliki potensi besar untuk menyerap tenaga kerja secara masif. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks upaya pemerintah mengembangkan industri hilir pertanian sebagai bagian dari strategi ekonomi nasional. Informasi ini dilaporkan oleh Antara pada Kamis, 17 Juli 2026.
CORE Indonesia merupakan lembaga kajian ekonomi yang secara rutin memberikan analisis terhadap berbagai kebijakan ekonomi pemerintah. Mohammad Faisal sebagai direktur eksekutif lembaga tersebut menyoroti pentingnya pengembangan sektor hilirisasi pertanian dalam menciptakan peluang kerja. Penilaian ini muncul di tengah upaya pemerintah untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional melalui transformasi sektor pertanian.
Sektor pertanian Indonesia selama ini lebih banyak mengekspor produk mentah atau bahan baku dengan nilai tambah rendah. Proyek hilirisasi bertujuan mengolah hasil pertanian menjadi produk jadi atau setengah jadi yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Proses transformasi ini membutuhkan berbagai tahapan produksi yang melibatkan banyak tenaga kerja, mulai dari pengolahan, pengemasan, hingga distribusi produk.
Menurut sumber dari Antara, Mohammad Faisal menekankan bahwa hilirisasi pertanian dapat menjadi solusi untuk mengatasi persoalan pengangguran di Indonesia. Sektor ini dinilai mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar karena sifat industrinya yang padat karya. Selain itu, pengembangan industri hilir pertanian juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan nilai jual produk mereka.
Pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang tengah gencar mendorong program hilirisasi di berbagai sektor, tidak hanya pertambangan tetapi juga pertanian. Program ini sejalan dengan visi untuk meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Hilirisasi pertanian mencakup berbagai komoditas seperti kelapa sawit, karet, kakao, kopi, dan hasil pertanian lainnya.
Dampak ekonomi dari proyek hilirisasi pertanian diperkirakan akan sangat signifikan terhadap perekonomian nasional. Selain menciptakan lapangan kerja baru, industri hilir pertanian juga dapat meningkatkan penerimaan devisa negara melalui ekspor produk bernilai tambah tinggi. Pengembangan industri ini juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah sentra produksi pertanian yang selama ini masih tertinggal.
Namun demikian, implementasi proyek hilirisasi pertanian memerlukan dukungan infrastruktur yang memadai dan investasi yang tidak sedikit. Pemerintah perlu menyiapkan ekosistem yang kondusif bagi pengembangan industri hilir, termasuk kemudahan perizinan, akses pembiayaan, dan pengembangan sumber daya manusia. Kesiapan infrastruktur logistik juga menjadi faktor kunci keberhasilan program hilirisasi ini.
Pernyataan CORE Indonesia ini menjadi masukan penting bagi pemerintah dalam merancang strategi pengembangan sektor pertanian ke depan. Sebagai lembaga kajian independen, CORE dikenal memberikan analisis berbasis data dan riset mendalam terhadap berbagai kebijakan ekonomi. Rekomendasi dari lembaga ini sering menjadi bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan publik di bidang ekonomi.
Hingga saat ini, belum ada rincian lebih lanjut mengenai proyeksi jumlah tenaga kerja yang dapat diserap dari program hilirisasi pertanian. Informasi detail tentang sektor-sektor pertanian mana yang akan diprioritaskan dan target waktu implementasi juga masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Data-data teknis terkait investasi yang dibutuhkan dan roadmap pelaksanaan program masih perlu diklarifikasi kepada pihak terkait.

