Metro

Dishub DKI Catat Jumlah Pejalan Kaki di Jakarta Naik 9,74 Persen pada 2026

Dinas Perhubungan DKI Jakarta mencatat peningkatan signifikan jumlah pejalan kaki di ibu kota pada periode awal 2026.

Foto jurnalistik untuk berita Dishub DKI Catat Jumlah Pejalan Kaki di Jakarta Naik 9,74 Persen pada 2026

Visual editorial Pena Nusantara (gpt-image-2)

Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta mencatat adanya peningkatan jumlah pejalan kaki di ibu kota sebesar 9,74 persen pada periode 2026. Kepala Dishub DKI Jakarta Budi Awaludin menyampaikan data tersebut dalam keterangan resmi yang dirilis pada Kamis, 5 Juni 2026. Peningkatan ini menunjukkan tren positif dalam mobilitas warga Jakarta yang memilih berjalan kaki sebagai moda transportasi.

Menurut informasi yang dihimpun dari kantor berita Antara, Budi Awaludin mengatakan bahwa angka kenaikan tersebut tercatat pada periode awal tahun 2026. Namun, rincian periode waktu yang lebih spesifik, apakah data tersebut mencakup kuartal pertama atau semester pertama tahun ini, belum dijelaskan secara detail dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan.

Data peningkatan jumlah pejalan kaki ini menjadi indikator penting dalam evaluasi kebijakan transportasi dan tata ruang kota Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam beberapa tahun terakhir telah mengembangkan berbagai infrastruktur pejalan kaki, termasuk trotoar yang lebih luas dan ramah pejalan kaki, jembatan penyeberangan orang (JPO), serta jalur pedestrian yang terintegrasi dengan transportasi umum.

Belum ada penjelasan resmi dari Dishub DKI Jakarta mengenai faktor-faktor spesifik yang menyebabkan kenaikan jumlah pejalan kaki sebesar 9,74 persen tersebut. Beberapa kemungkinan yang dapat menjadi penyebab antara lain perbaikan infrastruktur pedestrian, peningkatan kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat, atau perubahan pola mobilitas pasca pandemi yang mendorong lebih banyak orang memilih berjalan kaki untuk jarak dekat.

Metode pencatatan dan pengumpulan data jumlah pejalan kaki oleh Dishub DKI Jakarta juga belum dijelaskan secara rinci dalam sumber informasi yang tersedia. Biasanya, instansi terkait menggunakan berbagai metode seperti survei lapangan, penghitungan manual di titik-titik strategis, atau teknologi sensor dan kamera untuk memantau pergerakan pejalan kaki di berbagai lokasi di Jakarta.

Peningkatan jumlah pejalan kaki dapat memberikan dampak positif bagi kualitas udara dan pengurangan kemacetan di Jakarta. Semakin banyak warga yang memilih berjalan kaki, terutama untuk jarak pendek, dapat mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor pribadi. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Data ini juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi Pemprov DKI Jakarta dalam merencanakan pengembangan infrastruktur pejalan kaki ke depan. Dengan mengetahui tren peningkatan jumlah pejalan kaki, pemerintah dapat mengalokasikan anggaran dan sumber daya secara lebih tepat untuk membangun dan merawat fasilitas pedestrian yang memadai di berbagai wilayah Jakarta.

Informasi lebih lanjut mengenai distribusi geografis peningkatan pejalan kaki, apakah merata di seluruh Jakarta atau terkonsentrasi di wilayah tertentu, masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari Dishub DKI Jakarta. Demikian pula dengan perbandingan data tahun sebelumnya yang menjadi basis perhitungan persentase kenaikan 9,74 persen tersebut belum dirinci dalam pernyataan yang disampaikan.

Dishub DKI Jakarta diharapkan akan merilis data yang lebih komprehensif terkait pencapaian ini, termasuk rincian metodologi pengumpulan data, sebaran lokasi dengan peningkatan tertinggi, serta program-program yang berkontribusi terhadap kenaikan jumlah pejalan kaki. Transparansi data ini penting untuk memastikan akurasi informasi dan sebagai bahan perencanaan kebijakan transportasi yang lebih baik di masa mendatang.