Nasional

Komeng Soroti Capaian Swasembada Pangan RI di Tengah Konflik Kamboja-Thailand

Anggota DPD RI Alfiansyah Bustami menilai capaian swasembada pangan Indonesia perlu mendapat perhatian khusus di tengah konflik regional.

Foto jurnalistik untuk berita Komeng Soroti Capaian Swasembada Pangan RI di Tengah Konflik Kamboja-Thailand

Visual editorial Pena Nusantara (gpt-image-2)

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Alfiansyah Bustami, yang akrab disapa Komeng, menyoroti capaian swasembada pangan Indonesia di tengah terjadinya konflik antara Kamboja dan Thailand. Penilaian ini disampaikan pada Kamis (14/8/2026) sebagaimana dilaporkan kantor berita Antara. Komeng menilai bahwa capaian swasembada pangan nasional perlu mendapat perhatian khusus mengingat dinamika geopolitik regional yang sedang berlangsung.

Konflik yang terjadi antara Kamboja dan Thailand menjadi latar belakang pernyataan Komeng terkait ketahanan pangan nasional. Meskipun detail konflik tersebut belum dijelaskan secara rinci dalam sumber yang tersedia, keberadaan ketegangan di kawasan Asia Tenggara dinilai dapat berdampak pada stabilitas pangan regional. Indonesia sebagai negara dengan populasi besar memerlukan strategi ketahanan pangan yang kuat di tengah ketidakpastian geopolitik.

Swasembada pangan merupakan salah satu target strategis pemerintah Indonesia untuk mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan domestik. Program ini mencakup berbagai komoditas utama seperti beras, jagung, kedelai, dan produk pangan lainnya. Capaian swasembada pangan menjadi indikator penting bagi ketahanan ekonomi dan kedaulatan nasional, terutama dalam menghadapi gejolak eksternal yang dapat mempengaruhi pasokan dan harga pangan.

Komeng, yang merupakan tokoh publik sekaligus anggota DPD RI, memiliki peran dalam mengawasi dan memberikan masukan terhadap kebijakan pemerintah terkait pembangunan daerah dan nasional. Perhatiannya terhadap isu swasembada pangan menunjukkan urgensi topik ini dalam agenda legislatif dan pembangunan nasional. Sebagai anggota DPD, Komeng memiliki kewenangan untuk menyuarakan kepentingan daerah dalam konteks ketahanan pangan nasional.

Ketegangan geopolitik di kawasan Asia Tenggara, termasuk konflik Kamboja-Thailand, berpotensi mengganggu rantai pasokan pangan regional. Negara-negara ASEAN umumnya saling bergantung dalam perdagangan komoditas pangan, sehingga konflik bilateral dapat berdampak pada stabilitas harga dan ketersediaan pangan di negara-negara tetangga. Indonesia perlu mengantisipasi kemungkinan dampak tersebut melalui penguatan produksi pangan domestik.

Detail spesifik mengenai penilaian Komeng terhadap capaian swasembada pangan Indonesia belum tersedia secara lengkap dalam sumber yang ada. Informasi lebih lanjut mengenai aspek-aspek mana dari program swasembada yang disoroti, serta rekomendasi kebijakan yang diusulkan, masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Sumber berita Antara hanya menyebutkan bahwa Komeng menilai capaian swasembada pangan tanpa merinci substansi penilaian tersebut.

Konteks konflik Kamboja-Thailand yang menjadi latar pernyataan Komeng juga belum dijelaskan secara detail dalam sumber yang tersedia. Tidak disebutkan kapan konflik tersebut dimulai, apa penyebabnya, dan sejauh mana eskalasi yang terjadi. Informasi mengenai dampak langsung konflik tersebut terhadap sektor pangan regional juga belum terkonfirmasi dalam sumber berita yang ada.

Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terus mendorong berbagai program pembangunan ekonomi, termasuk ekonomi hijau yang menciptakan nilai tambah bagi rakyat. Meskipun tidak secara langsung terkait dengan pernyataan Komeng, fokus pemerintah pada pembangunan ekonomi berkelanjutan menunjukkan komitmen terhadap ketahanan nasional dalam berbagai sektor, termasuk pangan.

Pernyataan anggota DPD RI ini diharapkan dapat mendorong evaluasi lebih mendalam terhadap program swasembada pangan nasional. Dengan mempertimbangkan dinamika regional dan global, Indonesia perlu terus memperkuat kapasitas produksi pangan domestik untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Hal ini menjadi semakin penting mengingat potensi gangguan pasokan akibat konflik atau ketegangan geopolitik di kawasan.