Gambar unggahan redaksi Pena Nusantara
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) merespons ritual yang dilakukan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menginjak kepala kerbau di Lampung. Dalam pernyataannya, PDIP menegaskan bahwa hewan yang diinjak Jokowi adalah kerbau, bukan banteng yang menjadi simbol partai berlambang merah tersebut. PDIP menyebut kerbau merupakan hewan ternak yang cocok dengan istilah Termul, singkatan dari Ternak Mulyono, sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia pada Minggu (29/6/2026).
Pernyataan PDIP ini muncul di tengah berbagai penafsiran publik terkait makna simbolis dari ritual yang dilakukan Jokowi. Sejumlah pihak sebelumnya mengaitkan aksi tersebut dengan simbol banteng PDIP, partai yang sebelumnya menjadi kendaraan politik Jokowi dalam dua periode kepemimpinannya. Namun PDIP dengan tegas membantah interpretasi tersebut dan menegaskan perbedaan antara kerbau dan banteng.
Respons PDIP terhadap ritual Jokowi tidak berhenti pada klarifikasi soal hewan yang diinjak. Partai yang kini dipimpin Megawati Soekarnoputri itu juga menyinggung manuver politik yang dilakukan Jokowi belakangan ini. Menurut PDIP, safari politik yang dilakukan mantan orang nomor satu di Indonesia itu semata-mata bertujuan untuk menyelamatkan anak-anaknya, sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia dalam pemberitaan terpisah.
Sentilan PDIP terhadap manuver politik Jokowi menunjukkan semakin merenggangnya hubungan antara partai banteng dengan mantan kadernya yang pernah menjabat sebagai presiden selama dua periode. Pernyataan tersebut mengindikasikan adanya ketegangan politik yang terus berkembang antara kedua pihak, terutama terkait dengan langkah-langkah politik yang diambil Jokowi pasca-kepemimpinannya berakhir. Dinamika ini menjadi sorotan publik mengingat peran penting PDIP dalam perjalanan karier politik Jokowi.
Di tengah polemik antara PDIP dan Jokowi, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) turut angkat bicara. PSI menyatakan kesiapannya untuk bertarung melawan PDIP dalam kontestasi politik 2029 mendatang. Pernyataan PSI ini menambah dinamika perpolitikan nasional, khususnya dalam peta persaingan menjelang pemilihan umum yang masih beberapa tahun lagi. PSI tampaknya melihat momentum dari ketegangan antara PDIP dan Jokowi sebagai peluang politik.
Pengumuman PSI tentang kesiapannya menghadapi PDIP pada 2029 menunjukkan bahwa partai yang didirikan pada 2014 itu ingin memposisikan diri sebagai kekuatan alternatif. PSI menyebut siap melakukan duel pembuktian dengan partai banteng, menandakan ambisi untuk memperluas basis dukungan dan meningkatkan perolehan suara di pemilu mendatang. Langkah ini juga dapat dibaca sebagai upaya PSI untuk memanfaatkan situasi politik yang sedang dinamis.
Istilah Termul atau Ternak Mulyono yang digunakan PDIP dalam pernyataannya menjadi sorotan tersendiri. Mulyono merupakan nama asli Jokowi sebelum ia lebih dikenal dengan nama panggilannya. Penggunaan istilah ini oleh PDIP dapat diinterpretasikan sebagai sindiran halus terhadap mantan presiden yang kini dinilai telah berseberangan dengan partai yang pernah mengusungnya. Namun PDIP tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai maksud spesifik dari penggunaan istilah tersebut.
Ritual menginjak kepala kerbau yang dilakukan Jokowi di Lampung sendiri belum mendapat penjelasan resmi dari yang bersangkutan. Belum ada konfirmasi mengenai konteks, tujuan, atau makna dari ritual tersebut. Publik masih menunggu klarifikasi dari Jokowi atau tim komunikasinya terkait kegiatan yang memicu berbagai spekulasi dan penafsiran di kalangan pengamat politik maupun masyarakat umum.
Ketegangan antara PDIP dan Jokowi menambah kompleksitas lanskap politik Indonesia menjelang pemilu 2029. Hubungan yang sebelumnya harmonis kini berubah menjadi dinamika yang penuh dengan sentilan dan kritik. Perkembangan ini dipantau secara cermat oleh berbagai pihak, termasuk partai politik lain yang mungkin melihat situasi ini sebagai peluang untuk memperkuat posisi mereka dalam peta politik nasional yang terus berubah.

