Gambar unggahan redaksi Pena Nusantara
PALEMBANG, Sebuah prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh generasi muda pencetak inovasi dari bumi Sriwijaya. Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri) sukses menjadi satu-satunya perwakilan FK Unsri yang berhasil menembus pendanaan PKM 2026 oleh Belmawa Kemdiktisaintek. Pencapaian ini bukanlah hal yang mudah. Dari total hampir 30.000 proposal yang bertarung di ajang bergengsi nasional tersebut, tim FK Unsri ini berhasil mengamankan posisi sebagai salah satu dari 1.200-an tim elite yang berhak mendapatkan pendanaan. Keberhasilan luar biasa ini tentu tidak terlepas dari bimbingan mentor yang mumpuni. Tim ini berada di bawah arahan langsung dr. Rachmat Hidayat, M.Sc, PhD. Beliau merupakan peneliti senior di Bagian Biologi Kedokteran FK Unsri yang rekam jejaknya tak perlu diragukan lagi: mengantongi lebih dari 25 paten dan menerbitkan lebih dari 200 publikasi internasional dengan fokus riset biomolekular, khususnya pada pengembangan agen biologi. Membawa Terobosan Mutakhir untuk Penyakit AlzheimerProposal riset yang membawa mereka lolos berjudul "Fraksi Eksosomal Faktor Pertumbuhan Platelet Teraktivasi Intranasal Memperbaiki Memori Spasial dan Menurunkan Deposisi Plak Amiloid-ẞ pada Tikus Model Alzheimer". Tim peneliti muda ini digawangi oleh Fahri Habib Al Azka sebagai ketua, bersama empat anggotanya yang brilian, yaitu Muhammad Chaidar, Inez Shafa Damhudi, Aliya Shafa Khairunnisa, dan Yusram Praja Hamidi. Riset ini berangkat dari keresahan akan penyakit Alzheimer, sebuah gangguan saraf progresif yang merusak daya ingat dan belum memiliki obat yang benar-benar menyembuhkan. Terapi yang tersedia saat ini, seperti obat donepezil, hanya bersifat meredakan gejala (simtomatik) tanpa mampu menghentikan laju kerusakan sel saraf di otak. Menjawab tantangan tersebut, tim PKM-RE FK Unsri menawarkan inovasi mutakhir nanoteknologi. Mereka memanfaatkan fraksi eksosomal dari Activated Growth Factor (AGF) yang bersumber dari platelet darah teraktivasi, yang kaya akan faktor pertumbuhan pelindung saraf (neuroprotektif). Cerdasnya, terapi ini dirancang untuk diberikan melalui hidung (intranasal) sehingga bersifat noninvasif dan mampu langsung menembus penghalang darah otak (Blood-Brain Barrier). Diharapkan, hasil dari penelitian in vivo pada model hewan ini dapat menjadi tonggak awal (data praklinis) bagi lahirnya terapi biologis baru yang lebih menjanjikan bagi penderita Alzheimer di masa depan.

