Nasional

Polda Banten: Jeriken dan Pelampung di Selat Sunda Bukan Milik Lima Jurnalis Hilang

Tim SAR terus memperluas pencarian lima jurnalis hilang di Selat Sunda setelah barang temuan dipastikan bukan milik mereka.

Foto editorial untuk berita Polda Banten: Jeriken dan Pelampung di Selat Sunda Bukan Milik Lima Jurnalis Hilang

Gambar unggahan redaksi Pena Nusantara

Polda Banten memastikan bahwa jeriken dan pelampung yang ditemukan di perairan Selat Sunda bukan milik lima jurnalis yang masih hilang. Kepastian ini disampaikan pada Minggu (13/9/2026) setelah dilakukan identifikasi terhadap barang-barang yang ditemukan di lokasi pencarian. Tim SAR terus memperluas operasi pencarian di enam sektor berbeda untuk menemukan keberadaan kelima jurnalis tersebut.

Temuan jeriken dan pelampung sempat memberikan harapan bagi tim pencari dan keluarga korban bahwa ada petunjuk baru terkait keberadaan lima jurnalis yang hilang. Namun setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, Polda Banten menegaskan bahwa barang-barang tersebut tidak memiliki kaitan dengan rombongan jurnalis yang sedang dicari. Informasi ini disampaikan CNN Indonesia dalam laporannya pada Minggu malam.

Operasi pencarian lima jurnalis yang hilang di Selat Sunda kini memasuki fase perluasan wilayah. Tim SAR telah membagi area pencarian menjadi enam sektor untuk memaksimalkan upaya penemuan korban. Perluasan area ini dilakukan mengingat kondisi perairan dan kemungkinan pergerakan arus yang dapat membawa korban ke lokasi yang lebih luas dari titik awal kejadian.

Hilangnya lima jurnalis di Selat Sunda menjadi salah satu peristiwa yang mewarnai awal September 2026. CNN Indonesia melaporkan bahwa kasus ini tercatat sebagai salah satu kejadian penting dalam sepekan terakhir, bersama dengan insiden kapal Virgo yang terbalik di Laut Jawa. Kedua peristiwa ini menunjukkan tantangan keselamatan pelayaran di perairan Indonesia yang memerlukan perhatian serius.

Sementara itu, operasi pencarian terpisah juga berlangsung di Laut Jawa untuk mencari korban KMP Virgo Transport 8 yang mengalami kecelakaan. Basarnas Makassar telah mengerahkan KN SAR Kamajaya untuk membantu pencarian 130 orang yang masih hilang dari kapal tersebut. Hingga saat ini, sebanyak 69 korban selamat telah berhasil dievakuasi ke Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan menggunakan kapal MV Haida.

Pengerahan KN SAR Kamajaya dari Makassar menunjukkan keseriusan upaya pencarian korban KMP Virgo Transport 8. Kapal SAR ini ditugaskan khusus untuk memperkuat tim yang sudah berada di lokasi kejadian di Laut Jawa. Koordinasi antar-instansi terus dilakukan untuk memastikan operasi pencarian dan penyelamatan berjalan efektif, meskipun kondisi cuaca dan arus laut menjadi tantangan tersendiri bagi tim.

Evakuasi 69 korban selamat dari KMP Virgo ke Pelabuhan Banjarmasin memberikan secercah harapan di tengah tragedi yang menimpa kapal tersebut. Namun dengan masih adanya 130 orang yang belum ditemukan, operasi pencarian terus dilanjutkan dengan intensitas tinggi. Tim SAR bekerja tanpa henti untuk memaksimalkan peluang menemukan korban yang masih hilang, baik dalam kondisi selamat maupun tidak.

Kedua operasi pencarian, baik untuk lima jurnalis di Selat Sunda maupun korban KMP Virgo di Laut Jawa, menunjukkan kompleksitas tantangan keselamatan maritim di Indonesia. Kondisi geografis dengan ribuan pulau dan perairan yang luas memerlukan koordinasi yang solid antara berbagai instansi terkait, termasuk Polda, Basarnas, dan TNI AL. Kesiapan peralatan dan personel menjadi kunci keberhasilan operasi pencarian dan penyelamatan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi lebih lanjut mengenai perkembangan pencarian lima jurnalis di Selat Sunda. Tim SAR terus melakukan penyisiran di enam sektor yang telah ditentukan dengan harapan menemukan petunjuk baru. Keluarga korban dan rekan-rekan jurnalis terus menanti kabar positif sambil memberikan dukungan penuh kepada tim pencari yang bekerja di lapangan.

Polda Banten dan Tim SAR meminta masyarakat yang memiliki informasi terkait keberadaan lima jurnalis atau menemukan barang-barang yang diduga milik korban untuk segera melaporkan kepada pihak berwenang. Partisipasi masyarakat, terutama nelayan dan pelaut yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda, sangat diharapkan untuk mempercepat proses pencarian. Setiap informasi, sekecil apapun, dapat menjadi petunjuk penting dalam operasi pencarian yang masih berlangsung.